Cerita Sedih : Jika Aku Menemuimu Maukah Kau Bertemu Denganku
Minggu, 25 Januari 2015
Pakaianku basah terguyur hujan tadi, aku mencoba menghangatkan tubuhku dengan secangkir kopi hangat di suatu café. Cukup hangat, jaketku yang basah ku gantung disisi kursi sambil menikmati cuaca dingin ini. Ku buka laptopku dan kembali kepada tulisanku. Kumulai dengan kata-kata yang sederhana mengandung makna, jemariku mulai lihai dia atas keyboard ini. Detik demi detik jam demi jam aku terlarut dalam permainan kata-kata ini.
Kalimat per kalimat pun usai, kulihat sekilas disekeliling ku mencoba mengambil inspirasi. Kulihat jalanan di luar sana masih hujan deras, awan-awan diatas menunjukan kehitaman yang tak kunjung cerah, di seberang jalan disana terdapat pasangan yang sudah lanjut usia saling menutupi dari derasnya hujan dari dinginnya angin yang berhembus di sore itu. “mereka tampak romantis ya, Eliz?”kata keishi “ya, tetapi kasihan mereka berdua kehujanan apalagi diluar pasti sangat dingin.”kataku. “begitu ya, kalau begitu aku kesana dulu ya memberikan teh hangat ini untuk mereka.”kata kei sambil mengambil teh yang baru kami pesan “lalu mana untuk kita berdua?”kataku sambil menahan kei “kita bisa pesan lagi kok.”katanya sambil berlalu. Aah..kenangan apa ini, kenapa dia muncul lagi dipikiranku, apa tempat ini yang membawaku kepada kenangan itu? Kenangan yang sungguh menyakitkan.
Hujan perlahan mulai reda, tetapi ingatanku tentangnya belum kunjung hilang, dan pasangan lanjut usia itu masih ada di seberang jalan berteduh di tempat kecil masih saling menutupi satu sama lain. Kenangan Kei membuatku ingin kesana untuk menolong mereka dengan dua secangkir teh hangat yang mungkin dapat membantu mereka dari dinginnya cuaca di luar. “ini pesanannya, silahkan bayar dikasir.”kata seorang pelayan yang tiba-tiba menyadarkanku. Kurapikan segala peralatan dan perlengkapan dan akhirnya hanya beberapa kata saja aku mampu mengetik di lembaran putih. Ini semua karena kau keishi.
Kuhampiri kedua pasangan yang lanjut usia itu tanpa bermaksud untuk mengganggu mereka, dengan bertindak seramah mungkin aku mencoba memberikan mereka teh hangat. Tampaklah kedua pasangan itu yang begitu tua dibandingkan orang tuaku atau orang tua teman-teman sabayaku. Rasa simpati ini muncul begiitu saja mengalir mengikuti naluri kemanusian ku. Sang pria masih memeluk sang istri yang tampak kurang sehat. “apakah dia baik-baik saja?”tanyaku yang tampak heran dengan perilaku istrinya yang terus menggigil kedinginan. “bukan bermaksud meminta dari nona tetapi sudah dua hari kami tak makan demi mencari anak kami yang hilang.”kata sang suami. “hilang? Ah, begini saja aku akan member kalian makan dan bekal agar kalian tetap bisa mencari anak anda bagaimana.”kataku. “terima kasih nona kami tak mampu membalas kebaikan anda semoga kau diberkati tuhan nona.”kata sang suami dengan mata berbinar-binar. Segera ku kembali ke tempat café itu membeli sesuatu yang dapat dimakan. Kembali menyerahkan makanan kepada mereka.
Keishi lihatlah mereka, mereka tampak bahagia sekali dengan keadaan mereka walaupun mereka tak memiliki satupun makanan tetapi mereka tetap bersama dalam kebahagian. Keishi kau melihatnya dari atas sana bukan, mungkin jika bukan penyakitmu kita takkan berpisah begitu jauh, tetapi kurasa Tuhan lebih mencintai mu dibandingkan aku. Kei, tahukah kau banyak yang ku alami sejak kau pergi. Aku telah banyak membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan tetapi aku ingin lebih keishi, aku ingin lebih bisa membantu orang disekitarku. Aku mulai meneruskan sekolahku di kedokteran agar dapat mengobati berbagai macam penyakit agar tidak ada yang terkena penyakitmu. Keishi aku tau kau sangat bahagia saat ini mungkin jika kau ada disini kau akan bilang “bukankah sudah kubilang menolong seseorang itu sangat menyenangkan, tanpa harus peduli siapa kita, ras kita,kita dapat membantu sesama kita.” Atau mungkin kau akan bilang “kerja bagus Elizabeth, itu kerja bagus aku bangga padamu kau memang pantas menjadi istriku.”dan kau memelukku. Tetapi keishi hal yang akan selalu kupertanyakan padamu suamiku “jika aku ingin menemuimu maukah kau berjumpa denganku, denganku yang biasa ini.”
The End
Langganan:
Postingan (Atom)